Kadin Kaltim Dorong UMKM Tembus Pasar Malaysia, Siapkan “Trade Revolution”

oleh -722 Dilihat
oleh

READIN.ID – SAMARINDA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Timur mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor makanan dan minuman menembus pasar ekspor melalui skema business matching dengan pembeli dari Malaysia.

Kegiatan yang mempertemukan 21 UMKM Kaltim dengan delegasi Malaysian International Islamic Chamber of Commerce and Industry (MIICCI) itu digelar di Aula Keminting, Kantor DPPKUKM Kaltim, Samarinda, Selasa (14/4/2026).

Ketua Kadin Kaltim, Putri Amanda, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat daya saing pelaku usaha lokal di tengah peluang pasar internasional yang terbuka.

Menurut dia, arah kebijakan pembangunan daerah sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat, terutama dalam mendorong hilirisasi dan investasi. Namun, efektivitas implementasinya masih menjadi catatan.

“Kaltim tidak kekurangan investasi. Persoalannya ada pada kualitas dan dampaknya,” ujar Putri.

Ia menilai investasi yang masuk masih didominasi sektor ekstraktif dan belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi daerah.

“Belum optimal menyerap tenaga kerja lokal dan belum terhubung kuat dengan pelaku usaha lokal,” tambahnya.

Putri juga menyoroti bahwa agenda hilirisasi belum sepenuhnya berjalan di tingkat daerah.

“Hilirisasi masih banyak berhenti di tataran konsep, belum menjadi ekosistem industri yang hidup di kabupaten dan kota,” katanya.

Di sisi lain, wacana penguatan peran daerah sebagai penopang Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai belum sepenuhnya tercermin di lapangan.

“Infrastruktur dasar belum merata, akses ekonomi masyarakat masih terbatas, dan ketimpangan wilayah masih terlihat. Ini menunjukkan adanya jarak antara perencanaan dan implementasi,” ujarnya.

Karena itu, Kadin Kaltim mendorong perubahan orientasi kebijakan, terutama agar investasi lebih berdampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan UMKM. Selain itu, hilirisasi dinilai perlu berbasis potensi wilayah, sementara IKN harus diposisikan sebagai pasar nyata bagi pelaku usaha lokal.

“Pertumbuhan ekonomi harus benar-benar dirasakan oleh dunia usaha dan masyarakat,” tegas Putri.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kadin Kaltim, Bayu Reksa Nugraha, mengatakan kegiatan business matching menjadi langkah konkret menjawab persoalan klasik UMKM.

“UMKM kita banyak, tetapi belum naik kelas. Produknya ada, namun belum terkoneksi dengan pasar modern dan buyer internasional,” ujarnya.

Kadin Kaltim, lanjut Bayu, telah menyiapkan sembilan program strategis bertajuk Trade Revolution 2026–2031. Program tersebut mencakup peta perdagangan digital (Trade Map), UMKM Scale Up 100, akses pembiayaan non-bank, hingga pelatihan ekspor melalui Trade Academy.

Kegiatan ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Kaltim melalui DPPKUKM. Sebanyak 21 UMKM yang terlibat telah melalui proses kurasi sebelum dipertemukan dengan dua pembeli dari Malaysia.
Kepala DPPKUKM Kaltim, Heni Purwaningsih, mengatakan kegiatan tersebut ditujukan untuk membuka akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing produk daerah.

Respons dari pihak pembeli pun mulai terlihat, salah satunya terhadap produk madu asal Kaltim.

Pelaku UMKM Madu Lowahani, Trisna Hidayat, menyebut pembeli Malaysia mempertimbangkan tiga hal utama, yakni harga kompetitif, suplai yang stabil, dan keunikan produk.

“Mereka tertarik pada madu akasia yang berwarna lebih gelap. Sementara madu kelulut memiliki rasa yang cenderung asam, sehingga tidak semua konsumen cocok,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan ekspor dalam skala besar diperlukan kolaborasi antarpetani lebah.

“Tidak bisa sendiri. Harus berbasis komunitas agar kapasitas produksi bisa terpenuhi secara berkelanjutan,” kata Trisna.
(Humas Kadin Kaltim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *