Readin.id – SAMARINDA. Malam itu, warna oranye tak sekadar menjadi warna kaus. Ia menjelma semacam bara kecil yang menyala di tengah kota. Di aula eks Hotel Atlet yang kini bernama Claro Pandurata, ribuan Pusamania berkumpul, menaruh harap di layar besar, Minggu (17/5/2026).
Di antara riuh genderang dan pekik dukungan, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud hadir bersama sang istri, Sarifah Suraidah. Tidak berdiri jauh di kursi kehormatan, keduanya justru membaur di tengah lautan pendukung Pesut Etam.
Kaus oranye dikenakan. Sorak diteriakkan. Sesekali wajah tegang terlihat saat laga tandang Borneo FC kontra Persijap Jepara berjalan alot.
Namun sepak bola, kadang memang seperti hidup: penuh gairah, tapi tak selalu menghadirkan gol.
Skor kacamata menutup pertandingan. Peluang merebut puncak klasemen dari Persib Bandung memang belum padam, tetapi jalannya makin menanjak. Seperti mendaki bukit saat hujan baru saja turun.
Di sela pertandingan itulah, suara-suara tribun berubah menjadi suara kegelisahan.
Mario, salah satu perwakilan Pusamania, berbicara bukan sekadar sebagai suporter, melainkan sebagai penjaga harga diri daerah. Ia menyinggung kondisi Stadion Segiri yang terancam belum memenuhi standar pencahayaan untuk laga Asia.
Baginya, akan terasa ganjil jika klub kebanggaan Kalimantan Timur harus menjadi “pengungsi” di luar pulau sendiri hanya karena lampu stadion belum cukup terang.
“Borneo FC ini membawa nama daerah. Jangan sampai nanti mainnya di tanah orang karena stadion kita belum siap. Rasanya seperti punya rumah besar, tapi tamunya diterima di rumah tetangga,” ucapnya, disambut tepuk tangan panjang.
Bukan hanya soal lampu stadion. Pusamania juga berharap perusahaan-perusahaan di Benua Etam ikut turun tangan menopang perjalanan klub. Sebab sepak bola modern, selain soal strategi di lapangan, juga soal siapa yang mau menjaga nyala dapur perjuangannya.
Menjawab itu, Rudy Mas’ud tampak santai. Ia bahkan sempat bernostalgia, mengingat bangunan tempat nobar tersebut dulunya merupakan penginapan atlet saat PON digelar.
Lalu kalimat itu meluncur ringan, namun cukup membuat tribun bersorak.
“Kalau hotel ini saja bisa kita hidupkan kembali, masa lampu Segiri tidak bisa?” katanya, disambut riuh pendukung.
Pernyataan itu menjadi semacam isyarat: pemerintah provinsi tak ingin Borneo FC kehilangan rumah saat hendak menatap pentas Asia.
Rudy memastikan pembenahan pencahayaan Stadion Segiri akan segera diupayakan agar markas Pesut Etam bisa memenuhi standar pertandingan internasional.
“Nanti teknisnya diatur. Yang penting Segiri bisa dipakai saat Borneo FC berlaga di Asia,” sambungnya.
Soal sponsor dan bonus, Rudy juga membuka pintu dukungan. Ia ingin perusahaan-perusahaan di Kaltim ikut menjadi bagian dari perjuangan klub, bukan sekadar penonton dari balik papan reklame.
Baginya, trofi memang penting. Tetapi semangat menang jauh lebih utama.
“Juara itu bonus. Yang penting semangatnya dulu: menang, menang, dan menang,” tutupnya.
Dan malam itu, di tengah sorak yang belum selesai, harapan seolah kembali dinyalakan. Bukan hanya lampu stadion, tetapi juga keyakinan bahwa Pesut Etam tak perlu menjadi tamu di negeri orang untuk membawa nama Kalimantan Timur ke Asia. (*/ara)


