READIN.ID – BONTANG. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyoroti peran program Gratispol milik Pemprov Kaltim sebagai salah satu faktor pengungkit sektor pendidikan di daerah. Hal itu ia sampaikan saat tampil dalam Forum Orkestrasi Pembangunan Negeri yang digelar Kementerian Dalam Negeri di Balikpapan, Selasa (5/5/2026) kemarin.
Di hadapan forum, Neni memaparkan capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Bontang yang kini berada di level 32 persen. Angka tersebut sejajar dengan rata-rata nasional tahun 2025, bahkan diprediksi naik ke 34 persen. Sementara itu, capaian Kaltim sudah melampaui, menembus 40 persen.
Menurut Neni, posisi Bontang yang mampu bersaing dengan rata-rata nasional tidak lepas dari sinergi program daerah dengan kebijakan provinsi. Program Gratispol, khususnya bantuan UKT dan SPP, dinilai memberi ruang lebih luas bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi.
“Ini hasil kolaborasi. Dukungan provinsi melalui Gratispol sangat membantu mendorong partisipasi pendidikan di daerah,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa capaian APK bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Kondisi ini dinilai menjadi modal penting bagi Bontang dalam menghadapi tekanan industri dan persaingan ekonomi ke depan.
Dalam kesempatan yang sama, Pemkot Bontang juga memaparkan perkembangan sektor ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2025 tercatat 6,36 persen, menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025, jumlah penduduk usia kerja mencapai 143.729 orang.
Dari angka itu, 99.089 orang atau 68,94 persen masuk dalam angkatan kerja, sementara 44.640 orang lainnya bukan angkatan kerja.
Dari total angkatan kerja tersebut, sebanyak 92.786 orang telah terserap bekerja, sedangkan 6.303 orang masih menganggur. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pun berada di angka yang sama, yakni 68,94 persen.
Komposisi tenaga kerja didominasi lulusan SMA sebesar 27,05 persen. Disusul SMK 23,98 persen dan perguruan tinggi 22,45 persen. Sementara lulusan SD dan SMP masing-masing menyumbang 14,62 persen dan 11,91 persen.
Jika ditarik ke belakang, tren pengangguran di Bontang terus menunjukkan perbaikan. Dari posisi 12,44 persen pada 2017, angka tersebut sempat naik saat pandemi 2020–2021, sebelum kembali turun hingga 6,36 persen pada 2025.
Penurunan ini menjadi indikasi bahwa intervensi kebijakan pemerintah mulai berdampak. Tidak hanya menekan pengangguran, tetapi juga memperkuat kualitas dan daya saing tenaga kerja lokal.
Ke depan, Pemkot Bontang menargetkan tren positif ini tetap terjaga. Fokus diarahkan pada penguatan kualitas SDM serta perluasan lapangan kerja, agar pertumbuhan ekonomi daerah berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.


