READIN. ID – SAMARINDA. Isu renovasi rumah jabatan (rujab) gubernur dengan nilai Rp25 miliar akhirnya dijelaskan gamblang oleh Pemprov Kaltim. Angka tersebut ditegaskan bukan untuk satu bangunan, melainkan akumulasi puluhan paket pekerjaan dalam satu kawasan.
Plt Kepala Biro Umum Setdaprov Kaltim, Astri Intan Nirwany, menyebut persepsi yang berkembang di publik perlu diluruskan.
“Seolah-olah Rp25 miliar itu hanya untuk satu rumah jabatan. Padahal itu gabungan dari banyak paket kegiatan,” ujarnya saat konferensi pers di Diskominfo Kaltim, Selasa (5/5).
Dalam pemaparan ke media, total anggaran itu berasal dari lebih dari 50 paket pekerjaan. Itemnya beragam, mulai dari perbaikan ruang kerja gubernur dan wakil gubernur, pembenahan rujab, hingga pengadaan fasilitas seperti perabot, perlengkapan dapur, videotron, hingga pagar.
Astri menegaskan, porsi untuk renovasi rujab gubernur sendiri hanya sebagian kecil. Nilainya sekitar Rp3,4 miliar. Sisanya dialokasikan untuk pembenahan fasilitas lain dalam satu kompleks yang selama ini digunakan untuk menunjang aktivitas pemerintahan.
“Jadi jangan dipersempit hanya satu bangunan. Ini satu kawasan dengan banyak fungsi,” tegasnya.
Ia juga menyinggung sumber data yang ramai beredar berasal dari Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP). Menurutnya, angka yang muncul masih bersifat rencana, bukan angka final yang pasti dibelanjakan.
“Di tahap itu masih bisa berubah. Ada proses efisiensi dan penyesuaian,” katanya.
Perencanaan sendiri disebut telah disusun jauh hari, bahkan sebelum penetapan kepala daerah terpilih. Artinya, program tersebut tidak ditujukan untuk individu tertentu, melainkan untuk kesiapan fasilitas pemerintahan.
“Siapa pun gubernurnya nanti, fasilitasnya memang harus siap,” ujarnya.
Alasan utama renovasi juga bukan tanpa dasar. Dari hasil pengecekan lapangan, sejumlah fasilitas disebut sudah dalam kondisi memprihatinkan. Instalasi listrik bermasalah, sistem air tidak berfungsi normal, hingga kerusakan pada atap yang menyebabkan kebocoran.
Bahkan, pada periode cuaca ekstrem tahun lalu, beberapa bagian bangunan sempat terdampak cukup parah. Air dilaporkan masuk ke sejumlah ruangan, termasuk di lantai atas rujab.
Tak hanya itu, kerusakan juga ditemukan di fasilitas lain seperti guest house dan area pendukung yang selama ini aktif digunakan untuk kegiatan resmi.
“Sekarang aktivitas di rujab tinggi. Hampir setiap hari ada agenda. Kondisi lama jelas tidak memadai,” jelasnya.
Astri menegaskan, keseluruhan anggaran tersebut ditujukan untuk peningkatan fungsi layanan, bukan kepentingan pribadi pejabat. Ia berharap penjelasan ini bisa menghentikan kesalahpahaman yang berkembang.
“Yang perlu dipahami, ini untuk pelayanan dan operasional pemerintahan,” pungkasnya.(*/ara)


