Readin.id – PENAJAM – Rencana penataan kawasan wisata Pantai Tanjung Jumlai di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) diingatkan tidak semata mengejar perubahan fisik kawasan. Unsur kearifan lokal yang selama ini tumbuh bersama masyarakat perlu tetap menjadi bagian dari arah pengembangannya.
Anggota Komisi II DPRD PPU, Jamaluddin, menilai karakter Tanjung Jumlai saat ini masih lekat dengan pola pengelolaan masyarakat. Warga yang memiliki lahan turut mengelolanya secara mandiri untuk menunjang aktivitas wisata.
“Dengan tentunya tidak meninggalkan kearifan lokal yang ada. Artinya, di sini kan masih tradisional sekali dan masih sistemnya itu dikelola oleh masing-masing masyarakat yang punya lahan,” ujarnya, Senin (31/8/2026).
Bagi Jamaluddin, kondisi tersebut bukan sesuatu yang harus dihapus ketika pemerintah mulai melakukan penataan. Justru pola yang telah berjalan di masyarakat dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam merancang konsep pengembangan kawasan.
Ia mendorong agar warga pemilik lahan tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang terdampak kebijakan. Mereka, kata dia, bisa menjadi bagian dari pengelolaan apabila pemerintah membuka ruang komunikasi dan membangun pola kerja sama yang jelas.
“Oleh karena itu, ini yang sebenarnya yang perlu dibangun komunikasinya, dilakukan upaya pendekatan, diberikan edukasi pemahaman terhadap masyarakat sehingga bisa dikerjasamakan,” lanjutnya.
Jamaluddin menyebut kemitraan antara pemerintah dan masyarakat dapat menjadi jalan tengah dalam menata Tanjung Jumlai. Pemerintah bisa memperkuat pengelolaan kawasan, sementara masyarakat tetap memiliki ruang untuk mengambil peran dalam aktivitas wisata.
Menurutnya, pembangunan destinasi wisata seharusnya tidak hanya berbicara mengenai fasilitas, akses maupun perubahan tampilan kawasan. Dimensi sosial dan budaya masyarakat yang telah lebih dulu hidup di kawasan tersebut juga perlu diperhitungkan.
Sebab, kekuatan Tanjung Jumlai bukan hanya terletak pada potensi wisatanya, tetapi juga pada karakter lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, penataan kawasan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kepentingan warga. Tanjung Jumlai pun dapat berkembang tanpa kehilangan identitas lokal sekaligus tetap membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pemilik lahan. (Adv)


