READIN.ID – PENAJAM — Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Andi Yusuf, menanggapi penetapan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, sebagai pahlawan nasional pada tahun 2025.
Ia menilai keputusan tersebut merupakan penghargaan atas jasa besar seorang pemimpin yang berperan penting dalam pembangunan bangsa.
Penetapan Soeharto bersama tokoh buruh perempuan Marsinah sebagai pahlawan nasional menuai beragam tanggapan publik.
Sebagian masyarakat mengapresiasi peran Soeharto sebagai “Bapak Pembangunan”, sementara sebagian lainnya mengingatkan catatan pelanggaran HAM pada masa pemerintahannya.
Andi Yusuf menekankan, setiap pemimpin memiliki sisi baik dan buruk dalam perjalanan kepemimpinannya. Ia mengajak masyarakat untuk mengambil nilai positif dari setiap tokoh bangsa, termasuk Soeharto.
“Kalau kita melihat, memang Pak Presiden Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan yang menjabat kurang lebih 32 tahun. Beliau luar biasa, dan itu menjadi contoh bagi kita semua.
Mudah-mudahan ke depan, sebagai generasi penerus, kita bisa memiliki tekad dan ketulusan seperti beliau,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis (13/11/2025).
Meski keputusan tersebut menimbulkan pro dan kontra, jasa Soeharto dalam membangun fondasi ekonomi dan infrastruktur bangsa tetap tidak bisa diabaikan.
Ia menekankan, penghargaan sebagai pahlawan nasional sebaiknya dilihat dari kontribusi besar yang diberikan seorang pemimpin, sekaligus sebagai inspirasi bagi generasi penerus.
“Kalau menurut saya, bukan hanya Pak Soeharto saja yang bisa disebut pahlawan. Tapi semangat beliau dan para pahlawan lain itu yang harus kita ambil.
Dari mereka, kita belajar bagaimana membangun dengan ikhlas dan berpikir untuk masa depan bangsa,” lanjutnya.
Terkait kritik terhadap masa pemerintahan Soeharto, Andi Yusuf menilai hal tersebut penting dijadikan bahan refleksi.
Generasi penerus bisa belajar dari pengalaman masa lalu untuk memperbaiki kekurangan, sekaligus meneladani hal-hal positif dari para pemimpin terdahulu.
“Dari para pahlawan dan pemimpin terdahulu tentu ada hal-hal baik yang bisa kita teladani.
Sementara yang kurang baik harus jadi pembelajaran agar ke depan kita bisa lebih bijak dalam memimpin dan melanjutkan hasil perjuangan yang sudah ada,” jelasnya.
Ia menambahkan, gelar pahlawan nasional bukan sekadar penghargaan simbolik, tetapi juga pengingat agar masyarakat mampu meneladani semangat perjuangan para tokoh yang telah berjasa bagi bangsa.
“Yang penting kita lihat kontribusi positifnya. Pahlawan itu tidak harus sempurna, tapi punya semangat besar membangun negeri.
Nah, tugas kita sekarang adalah melanjutkan perjuangan mereka dengan cara yang lebih baik,” tambahnya.
Peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan dan persatuan bangsa.
Bagi Andi Yusuf, mengenang jasa para pahlawan bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga bagaimana meneruskan cita-cita mereka melalui kerja nyata di masa kini.(adv/lov/ara)






